SUMBER-SUMBER ILMU PENGETAHUAN DALAM AL QUR’AN DAN HADITS
SUMBER-SUMBER
ILMU PENGETAHUAN DALAM AL QUR’AN DAN
HADITS
Muhammad Dihyah Azry (1907015060)
Universitas
Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA
Email: dihyahazry@gmail.com
ABSTRAK
Awal kelahirannya, Islam sudah memberikan
penghargaan yang begitu besar kepada ilmu. Salah satu pencerahan yang dibawa
oleh Islam bagi kemanusiaan adalah pemikiran secara ilmiah yang merujuk kepada
Alquran dan Hadits. Kesadaran para ilmuan muslim yang bersumber dari Alquran
dan Hadits memicu pencapaian terbesar dalam ilmu pengetahuan. Sifat lain yang
diajarkan oleh Alquran dan Hadits kepada kaum muslim adalah keterbukaan
pikiran, yang memungkinkan mereka mendapatkan ilmu pengetahuan dari peradaban
lain tanpa prasangka. Tujuan penulisan ini sebagai salah satu upaya membumikan
Alquran dan Hadits dengan mengkaji secara tematik khususnya tentang ilmu
pengetahuan. Artikel ini ditulis berdasarkan studi pustaka mengenai ilmu terkait
serta tafsir Alquran dan Hadits. Diketahui bahwa dalam Islam tidak ada satupun
ilmu yang berdiri sendiri dan terpisah dari bangunan epistemologis Islam,
ilmu-ilmu tersebut tidak lain merupakan bayan atau penjelasan yang mengafirmasi
wahyu, yang kebenarannya pasti. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan
sebagai filter dalam mengantisipasi pengaruh negatif dari perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi.
Pengertian
Al-Quran dan Hadits – Al-Quran dan Hadits adalah sumber utama
untuk umat islam di seluruh dunia untuk menjalani kehidupan. Al-Quran adalah
mukjizat terbesar Nabi Muhammad SAW yang diturunkan kepadanya secara
berangsur-angsur melalui perantara malaikat Jibril. Tidak hanya Al-Quran, Allah
juga menurunkan firman-firman nya kepada Nabi Muhammad yang disebut dengan
hadits.
PENDAHULUAN
Sejak awal kelahirannya, Islam sudah memberikan penghargaan
yang begitu besar kepada ilmu. Sebagaimana sudah diketahui, bahwa Nabi Muhammad
SAW ketika diutus oleh Allah SWT sebagai Rasul, hidup dalam masyarakat yang
terbelakang, dimana paganisme tumbuh menjadi sebuah identitas yang melekat pada
masyarakat Arab masa itu. Kemudian Islam datang menawarkan cahaya penerang,
yang mengubah masyarakat Arab jahiliyah menjadi masyarakat yang berilmu dan
beradab. Salah satu pencerahan yang dibawa oleh Islam bagi kemanusiaan adalah
pemikiran secara ilmiah, masyarakat Arab dan Timur tengah pra Islam tidak
memperdulikan persoalan-persoalan mengenai alam semesta, bagaimana alam
tercipta dan bagaimana alam bekerja, maka dari sinilah mereka belajar merenungi
pertanyaan-pertanyaan ini dan untuk mencari jawabannya tentang itu semua,
mereka merujuk kepada Alquran dan Hadits. Di dalam Alquran (QS Ali-Imran:
190-191), Allah memerintahkan memikirkan bagaimana langit dan bumi tercipta,
cara fikir ini menggerakkan bangkitnya ilmu pengetahuan dalam peradaban Islam.
Ini adalah pengembangan ilmu pengetahuan yang istimewa dalam sejarah dunia,
terutama tentang alam semesta.
Menurut Al-Indunisi (2008), Baghdad menjadi ibukota ilmu
pengetahuan dalam imperium Islam, selain menjadi ibu kota, Baghdad menjadi
pusat kumpulnya para peneliti, illmuan dan filosof. Yang terkenal di sana pada
saat itu adalah terungkapnya rahasia alam semesta yang Allah ciptakan.
Kesadaran para ilmuan muslim yang bersumber dari Alquran dan Hadits memicu
pencapaian terbesar dalam ilmu pengetahuan, sesuatu yang belum pernah terjadi
sebelumnya, sifat lain yang diajarkan oleh Al- Qur’an dan Hadits kepada kaum
muslim adalah keterbukaan fikiran, yang memungkinkan mereka mendapatkan ilmu
pengetahuan dari peradaban lain tanpa prasangka.
Karya-karya kaum muslim sangat mengagumkan dan mempunyai
andil yang sangat besar dalam penelitian, pengamatan, percobaan dan
perhitungan. Sebagai contoh, sistem desimal yang sekarang digunakan diseluruh
dunia dikembangkan oleh ahli matematika muslim. Menurut Gordon (2008), aljabar
dan trigonometri adalah temuan pakar matematika muslim. Sejumlah prestasi kaum
muslimin yang paling memukau adalah dibidang kedokteran, dimasa ketika orang
Eropa menganggap penyakit disebabkan oleh roh jahat.
Pengamatan dokter-dokter muslim terhadap anatomi manusia
sangatlah tepat sehingga hasilnya dijadikan buku-buku rujukan di
sekolah-sekolah kedokteran Eropa selama lebih dari enam abad silam.
Dokter-dokter Islam juga mengukur denyut nadi pasien ketika sedang memeriksa
mereka, dan ini dilakukan berabad-abad sebelum orang Eropa. Ilmuan muslim
menemukan sejumlah penemuan-penemuan yang sangat penting dalam bidang optik dan
cahaya. Orang yang pertama yang meggambarkan anatomi mata dengan sangat
terperinci adalah ahli optik muslim yaitu Ibnu Al Haitsam, penelitiannya yang
diakui dalam bidang lensa membuka jalan bagi penemuan kamera. Dokter-dokter
muslim juga menemukan penyebab kerusakan penglihatan dan melakukan operasi
katarak yang berhasil beberapa abad sebelum Eropa. Warisan ilmu pengetahuan
Islam menjadi sumber pencerahan Eropa (Abqary, 2010).
Pada dasarnya hakikat ilmu pengetahuan adalah untuk mencari
kebenaran secara ilmiah, namun dalam Alquran dan Hadits hakikat ilmu
pengetahuan bukan semata-mata untuk mencari kebenaran yang bersifat ilmiah,
melainkan untuk mencari-tanda-tanda, kebajikan-kebajikan dan rahmah untuk itu
apakah hakikat ilmu pengetahuan sebenarnya?
Alquran bukan
merupakan penghambat perkembangan ilmu pengetahuan, tidak sedikit ayatayat
Alquran dan Hadits yang mendorong manusia untuk mengembangkan ilmu pengetahuan,
oleh karena itu bagaimana peran Alquran dan Hadits dalam perkembangan ilmu
pengetahuan?
Bagaimanapun ilmu pengetahuan harus digunakan,
dalam penggunaan ini disatu sisi ilmu pengetahuan bebas dari nilai (value free), disisi lain Alquran dan
Hadits menekankan bahwa segala bentuk kegiatan manusia harus dikaitkan dengan
nilai ibadah; bagaimana pandangan Alquran dan Hadits terhadap penggunaan ilmu
pengetahuan?
Tujuan penelitian ini adalah: (1) sebagai salah satu upaya
membumikan Alquran dan Hadits dengan mengkaji secara tematik khusunya tentang
ilmu pengetahuan; (2) menambah khazanah intelektualitas bagi ummat Islam yang
selalu ingin menemukan kejayaannya kembali dengan mengkaji ulang konsep ilmu
pengetahuan dan teknologi; (3) di tengah era globalisasi, ilmu pengetahuan dan
teknologi berkembang begitu cepatnya yang membawa perubahan sosial dan pergeseran
nilai. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai filter dalam
mengantisifasi pengaruh negatif dari perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi.
PEMBAHASAN
Ilmu Pengetahuan dalam
Al Qur’an
Ilmu pengetahuan adalah merupakan salah satu isi pokok
kandungan kitab suci Alquran. Bahkan kata ‘ilm
itu sendiri disebut dalam Alquran sebanyak 105 kali, tetapi dengan kata
jadiannya ia disebut lebih dari 744 kali (Rahardjo, 2002). yang memang
merupakan salah satu kebutuhan agama Islam, betapa tidak setiap kali umat Islam
ingin melaksanakan ibadah selalu memerlukan penentuan waktu dan tempat yang
tepat, umpamanya melaksanakan shalat, menentukan awal bulan Ramadhan,
pelaksanaan haji, semuanya punya waktu-waktu tertentu. Dalam menentukan waktu yang tepat diperlukan
ilmu astronomi. Maka dalam Islam pada abad pertengahan dikenal istilah sains
mengenai waktu-waktu tertentu (Turner, 2004). Banyak lagi ajaran agama yang
pelaksanaannya sangat terkait erat dengan sains dan teknologi, seperti menunaikan
ibadah haji, berdakwah, semua itu membutuhkan kendaraan sebagai alat
transportasi. Allah telah meletakkan garis-garis besar sains dan ilmu
pengetahuan dalam Alquran, manusia hanya tinggal menggali, mengembangkan konsep
dan teori yang sudah ada, antara lain sebagaimana terdapat dalam QS. Ar-Rahman
ayat 33 di bawah ini.
يٰمَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِ اِنِ اسْتَطَعْتُمْ اَنْ تَنْفُذُوْا مِنْ اَقْطَارِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ فَانْفُذُوْاۗ لَا تَنْفُذُوْنَ اِلَّا بِسُلْطٰنٍۚ - ٣٣
Artinya: “Hai jama'ah jin dan manusia, jika kamu
sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, Maka lintasilah, kamu
tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan.”
Ayat di atas pada masa empat belas abad yang silam telah
memberikan isyarat secara ilmiyah kepada bangsa Jin dan Manusia, bahwasanya
mereka telah dipersilakan oleh Allah untuk mejelajah di angkasa luar asalkan
saja mereka punya kemampuan dan kekuatan (sulthan).
Kekuatan yang dimaksud di sini sebagaimana di tafsirkan para ulama adalah ilmu
pengetahuan atau sains dan teknologi, hal ini telah terbukti di era modern
sekarang ini, dengan di temukannya alat transportasi yang mampu menembus luar
angkasa, bangsa-bangsa yang telah mencapai kemajuan dalam bidang sains dan
teknologi telah berulang kali melakukan pendaratan di Bulan, Pelanet Mars,
Jupiter dan planet-pelanet lainnya.
Kemajuan yang telah diperoleh oleh bangsa-bangsa yang maju
(bangsa barat) dalam bidang ilmu pengetahuan, sains dan teknologi di abad
modern ini, sebenarnya merupakan kelanjutan dari tradisi ilmiah yang telah
dikembangkan oleh ilmuan-ilmuan muslim pada abad pertengahan atau dengan kata
lain ilmuan muslim banyak memberikan sumbangan kepada ilmuan barat, hal ini
sebagaimana diungkapkan oleh Yatim (1997) dalam bukunya Sejarah Perdaban Islam:
“Kemajuan Barat pada mulanya bersumber dari peradaban Islam yang masuk ke Eropa
melalui Spanyol” (p. 2).
Hal ini diakui oleh sebagian mereka. Sains dan teknologi
baik itu yang ditemukan oleh ilmuan muslim maupun oleh ilmuan barat pada masa
dulu, sekarang dan yang akan datang, semua itu bukti kebenaran informasi yang
terkandung di dalam Alquran, karena jauh sebelum peristiwa penemuanpenemuan itu
terjadi, Alquran telah memberikan isyarat-isyarat tentang hal itu dan ini
termasuk bagian dari kemukjizatan Alquran, dimana kebenaran yang terkandung di
dalamnya selalu terbuka untuk dikaji, didiskusikan, diteliti, diuji dan
dibuktikan secara ilmiah oleh siapa pun.
Alquran adalah kitab induk, rujukan utama bagi segala
rujukan, sumber dari segala sumber, basis bagi segala sains dan ilmu
pengetahuan. Alquran adalah buku induk ilmu pengetahuan, di mana tidak ada satu
perkara apapun yang terlewatkan (Kartanegara, 2006), semuanya telah diatur di
dalamnya, baik yang berhubungan dengan Allah (hablum minallah) sesama manusia (hablum minannas) alam, lingkungan, ilmu akidah, ilmu sosial, ilmu
alam, ilmu emperis, ilmu agama, umum dan sebagainya (dalam QS Al An’am: 38).
Lebih lanjut Baiquni (1997) mengatakan bahwa sebenarnya segala ilmu yang diperlukan manusia itu tersedia di dalam Alquran (p. 17). Salah satu kemukjizatan (keistimewaan) Alquran yang paling utama adalah hubungannya dengan ilmu pengetahuan, begitu pentingnya ilmu pengetahuan dalam Alquran sehingga Allah menurunkan ayat yang pertama kali QS. Al-‘Alaq: 1-5, yaitu:
اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ(١
خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ(٢
اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ(٣
الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ(٤
عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ(٥
Artinya: “Bacalah dengan (menyebut)
nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal
darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, yang mengajar (manusia)
dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”
Pentingnya Belajar
Menurut Al Qur’an dalam Surat Al-Alaq Ayat 1-5
Surat Al-Alaq (Iqra’)
termasuk ayat Al Qur’an pertama yang diturunkan, termasuk ayat makiyyah,
terdiri dari 19 ayat, 93 kalimat dan 280 huruf. Dalam Surat Al Alaq dapatlah di
lihat suatu gambaran yang hidup mengenai suatu peristiwa terbesar yang pernah
terjadi pada sejarah manusia, yaitu pertemuan Nabi Muhammad SAW dengan Malaikat
Jibril untuk pertama kali di Gua Hiro’ dan penerimaan wahyu yang pertama
setelah Nabi berusia 40 tahun.
Bagian pertama Surat Al-Alaq ini mengarahkan Nabi Muhammad
SAW kepada Allah agar beliau berkomunikasi dengan Allah dan beliau dengan nama
Allah membaca ayat-ayat Alquran yang diterima melalui wahyu/Jibril (bukan
membaca tulisan di atas kertas, sebab ia adalah ummi/tidak pandai baca tulis). Sebab dari Allah-lah asal mula
segala makhluk dan kepadanya pulalah semua akan kembali.
Wahyu pertama itu juga mengingatkan, bahwa Allah telah
memuliakan/menjunjung tinggi martabat manusia melalui baca. Artinya dengan
proses belajar mengajar itu manusia dapat menguasai ilmu-ilmu pengetahuan dan
dengan ilmu-ilmu pengetahuan ini manusia dapat mengetahui rahasia alam semesta
yang sangat bermanfaat bagi kesejahteraan hidupnya. Padahal manusia itu
dijadikan oleh Allah dari segumpal darah yang melekat dirahim ibu. Surat
Al-Alaq ayat 1-5 diturunkan sewaktu Rasulullah SAW berkhalwat di Gua Hiro, ketika itu beliau berusia 40 tahun.
Ayat-ayat pertama yang diturunkan sekaligus merupakan tanda pengangkatan Nabi
Muhammad SAW sebagai Rasul Allah.
Surat Al-Alaq ayat 1-5 mengandung pengertian bahwa untuk
memahami segala macam ilmu pengetahuan, seseorang harus pandai dalam membaca.
Dalam membaca itu harus didahului dengan menyebut nama Tuhan; yakni dengan
membaca “BasmAllah” terlebih dulu dan
ingat akan kekuasaan yang dimiliki-Nya, sehingga ilmu yang diperoleh dari
membaca itu, akan menambah dekatnya hubungan manusia dengan khaliq-nya.
Allah SWT menjelaskan bahwa Dia-lah yang menciptakan manusia
dari segumpal darah dan kemudian menjadikan makhluk yang paling mulia. Ini
menunjukkan betapa Maha Kuasanya Allah SWT. Pada ayat berikutnya Allah SWT
Mengulang untuk memerintahkan membaca, dalam rangka untuk mengetahui kemuliaan
Allah Yang Maha Pemurah. Dengan limpahan karunia-Nya, Dia juga mengajarkan
kepada manusia kemampuan membaca dan kemampuan menggunakan pena (kemampuan baca
tulis), yang menyebabkan manusia dapat mempelajari berbagai persoalan, sehingga
manusia dapat menguasai berbagai ilmu yang diperlukan dalam hidupnya.
Surat Al-Alaq ayat 1-5 mengandung perintah membaca, membaca
berarti berfikir secara teratur atau sitematis dalam mempelajari firman dan
ciptaan-Nya, berfikir dengan menkorelasikan antara ayat qauliah dan kauniah
manusia akan mampu menemukan konsep-konsep sains dan ilmu pengetahuan. Bahkan
perintah yang pertama kali dititahkan oleh Allah kepada Nabi Muhammada SAW dan
umat Islam sebelum perintah-perintah yang lain adalah mengembangkan sains dan
ilmu pengetahuan serta bagaimana cara mendapatkannya. Tentu ilmu pengetahuan
diperoleh di awali dengan cara membaca, karena membaca adalah kunci dari ilmu
pengetahuan, baik membaca ayat qauliah maupun ayat kauniah, sebab manusia itu lahir
tidak mengetahui apa-apa, pengetahuan manusia itu diperoleh melalui proses
belajar dan melalui pengalaman yang dikumpulkan oleh akal serta indra
pendengaran dan penglihatan demi untuk mencapai kejayaan,
kebahagian dunia dan akhirat (Sarwar, 1994).
Menurut DEPAG (2000), dalam Alquran terdapat kurang lebih
750 ayat rujukan yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan sementara tidak ada
agama atau kebudayaan lain yang menegaskan dengan begitu tegas akan kepentingan
ilmu dalam kehidupan manusia. Ini membuktikan bahwa betapa tingginya kedudukan
sains dan ilmu pengetahuan dalam Alquran (Islam). Alquran selalu memerintahkan
kepada manusia untuk mendayagunakan potensi akal, pengamatan, pendengaran,
semaksimal mungkin (Hasan, 2005).
Islam adalah satu-satunya agama di dunia yang sangat (bahkan
paling) empatik dalam mendorong umatnya untuk menuntut ilmu, bahkan Alquran itu
sendiri merupakan sumber ilmu dan sumber inspirasi berbagai disiplin ilmu
pengetahuan sains dan teknologi. Betapa tidak, Alquran sendiri mengandung
banyak konsep-konsep sains, ilmu pengetahuan dan teknologi serta pujian
terhadap orang-orang yang berilmu.
Dalam QS. Al-Mujaadilah ayat 11, Allah SWT
berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ
Artinya: “majlis",
Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabilaHai
orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah
dalam dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah
akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang
diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang
kamu kerjakan.”
Dalam Tasmara (2004), kita dapat melihat dengan jelas bahwa
Islam merupakan agama yang sangat maju dalam bidang ilmu pengetahuan, jadi
Islam bukanlah sebatas ibadah dan shalat saja tetapi Islam adalah kaffah (menyeluruh). Menurut Ali
Syariati (dalam Tasmara, 2004), Alquran merupakan firman Allah yang sangat
komprehensif, yang menjadi sumber inspirasi bagi manusia dalam semua lini
kehidupan. Hal ini dapat dilihat dari klasifikasi Alquran yang dibuat olehnya.
Tabel 1 Klasifikasi Alquran
|
NO |
KLASIFIKASI SURAT |
JUMLAH SURAT |
PROSENTASE |
|
1 |
Fenomena Alam dan Materi |
32 |
26.66 % |
|
2 |
Aqidah dan Aliran Pemikiran |
29 |
24.14 % |
|
3 |
Sosial dan Politik |
27 |
22.5 % |
|
4 |
Sejarah dan Filsafat Sejarah |
17 |
14.14 % |
|
5 |
Perilaku dan Akhlak |
4 |
3.3 % |
|
6 |
Masalah Harta |
4 |
3.3 % |
|
7 |
Ibadah dan Syiar Agama |
2 |
1.7 % |
Sumber: Tasmara (2004)
Prinsip tauhid di dalam Islam, menegaskan bahwa semua yang
ada berasal dan atas izin Allah SWT.
Dia-lah Allah SWT yang Maha Mengetahui segala sesuatu. Konsep
kekuasaan-Nya juga meliputi pemeliharaan terhadap alam yang Dia ciptakan.
Konsep yang mengatakan bahwa Allah SWT lah yang mengajarkan manusia disebutkan
dalam Al-Quran.
QS Al Baqarah ayat 31:
وَعَلَّمَ اٰدَمَ الۡاَسۡمَآءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمۡ عَلَى الۡمَلٰٓٮِٕكَةِ فَقَالَ اَنۡۢبِــُٔوۡنِىۡ بِاَسۡمَآءِ هٰٓؤُلَآءِ اِنۡ كُنۡتُمۡ صٰدِقِيۡنَ
Artinya: “Dan Dia mengajarkan kepada
Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para
Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika
kamu memang benar orang-orang yang benar!"
QS Al Baqarah ayat 239:
فَاِنْ خِفْتُمْ فَرِجَالًا اَوْ رُكْبَانًا ۚ فَاِذَآ اَمِنْتُمْ فَاذْكُرُوا اللّٰهَ كَمَا عَلَّمَكُمْ مَّا لَمْ تَكُوْنُوْا تَعْلَمُوْنَ
Artinya: “Jika kamu dalam Keadaan
takut (bahaya), Maka Shalatlah sambil berjalan atau berkendaraan. kemudian
apabila kamu telah aman, Maka sebutlah Allah (shalatlah), sebagaimana Allah
telah mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.”
QS Ar-Rahman ayat 2:
عَلَّمَ الۡقُرۡاٰنَؕ
Artinya: “Yang telah mengajarkan Alquran.”
QS. Al-A’laq ayat 4-5:
الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ(٤
عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ(٥
Artinya: “Yang mengajar (manusia)
dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak
diketahuinya.”
Sumber-sumber pengetahuan lain selain yang
diwahyukan langsung misalnya fenomena alam, psikologi manusia, dan sejarah.
Alquran menggunakan istilah ayat
(tanda) untuk menggambarkan sumber ilmu berupa fenomena alam dan psikologi,
dalam ayat-ayat berikut.
QS Al Baqarah ayat 164:
Artinya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan
bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa
apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa
air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia
sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang
dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan
dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.”
QS Asy Syuura ayat 53:
صِرَاطِ اللّٰهِ الَّذِيْ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ اَلَآ اِلَى اللّٰهِ تَصِيْرُ الْاُمُوْرُ ࣖ
Artinya: “(yaitu) jalan Allah yang Kepunyaan-Nya
segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa kepada
Allah-lah kembali semua urusan.”
Untuk sumber ilmu berupa fenomena sejarah,
Alquran menggunakan istilah ‘ibrah
(pelajaran, petunjuk) yang darinya bisa diambil pelajaran moral dalam ayat
berikut.
QS Yusuf ayat 111:
Artinya: “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu
terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah
cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitabkitab) yang sebelumnya
dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang
beriman.”
Sebagai akibat wajar dari otoritas
ketuhanan-Nya, Alquran, di samping menunjukkan sumbersumber pengetahuan
eksternal, Alquran juga merupakan sumber utama pengetahuan (Hafidhuddin, 1998).
Dalam Islam, pencarian pengetahuan oleh seseorang bukanlah sesuatu yang tidak
mungkin, tetapi harus, dan dianggap sebagai kewajiban bagi semua Muslim yang
bertanggung jawab. Kedudukan ini berbeda dengan sikap skeptis Yunani dan
Sophis, yang menganggap pengetahuan hanya imajinasi kosong.
Dalam bahasa Arab, pengetahuan digambarkan
dengan istilah al-ilm, al-ma’rifah dan
alsyu’ur. Namun, dalam pandangan dunia Islam, yang pertamalah yang
terpenting, karena ia merupakan salah satu sifat Allah SWT. Al-ilm berasal dari akar kata l-m dan diambil dari kata ‘alamah, yang berarti tanda, simbol, atau lambang,
yang dengannya sesuatu itu dapat dikenal. Tapi ’alamah juga berarti pengetahuan, lencana, karakteristik, petunjuk
dan gejala. Karenanya ma’lam (jamak
ma’alim) berarti petunjuk jalan, atau sesuatu yang menunjukkan dirinya atau
dengan apa seseorang ditunjukkan. Hal yang sama juga pada kata alam berarti
rambu jalan sebagai petunjuk. Di samping itu, bukan tanpa tujuan Alquran
menggunakan istilah ayat baik terhadap wahyu, maupun terhadap fenomena alam.
Pengertian ayat (dan juga ilm, alam, dan
’alama) di dalam Alquran tersebut yang menyebabkan Nabi Muhammad SAW
mengutuk orang-orang yang membaca Surat Ali Imran ayat 190-195 yang secara
jelas menggambarkan karakteristik orang-orang yang mambaca, mengingat ayat-ayat Allah SWT di
muka bumi tanpa mau merenungkan maknanya.
QS Ali Imran ayat 190-195:
Artinya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan
bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi
orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil
berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang
penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan Kami, Tiadalah
Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami
dari siksa neraka. Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya Barangsiapa yang Engkau masukkan
ke dalam neraka, Maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi
orang-orang yang zalim seorang penolongpun. Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya Kami
mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): "Berimanlah kamu
kepada Tuhanmu", Maka Kamipun beriman. Ya Tuhan Kami, ampunilah bagi Kami
dosa-dosa Kami dan hapuskanlah dari Kami kesalahan-kesalahan Kami, dan
wafatkanlah Kami beserta orang-orang yang banyak berbakti. Ya Tuhan Kami,
berilah Kami apa yang telah Engkau janjikan kepada Kami dengan perantaraan
Rasulrasul Engkau. dan janganlah Engkau hinakan Kami di hari kiamat.
Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji.". Maka Tuhan mereka
memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): "Sesungguhnya aku tidak
menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik lakilaki atau
perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka
orangorang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti
pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan
kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah aku masukkan mereka ke dalam surga yang
mengalir sungai-sungai di bawahnya, sebagai pahala di sisi Allah. dan Allah
pada sisi-Nya pahala yang baik."
Sifat penting dari konsep pengetahuan dalam
Alquran adalah holistik dan utuh (berbeda dengan konsep sekuler tentang
pengetahuan). Pembedaan ini sebagai bukti worldview
tauhid dan monoteistik yang tak kenal kompromi. Dalam konteks ini berarti
persoalan-persoalan epistemologis harus selalu dikaitkan dengan etika dan
spiritualitas. (Dalam Islam) ruang lingkup persoalan epistemologis meluas, baik
dari wilayah (yang disebut) bidang
keagamaan dengan wilayah-wilayah (yang disebut sekuler), karena worldview Islam tidak mengakui adanya
perbedaan mendasar antara wilayah-wilayah ini. Adanya pembedaan semacam itu
akan memberi implikasi penolokan hikmah dan petunjuk Allah SWT, dan hanya
memberi perhatian dalam wilayah tertentu saja. Wujud Allah SWT sebagai sumber
semua pengetahuan, secara langsung meliputi kesatuan dan integralitas semua sumber
dan tujuan epistemologis. Ini menjadi jelas
jika kita merenungkan kembali
istilah ayat yang menunjuk pada ayat-ayat Alquran dan semua wujud di alam
semesta.
Konsep integralitas pengetahuan telah
diuraikan al-Ghazali dalam kitabnya Jawahir
Alquran, di mana ia menegaskan bahwa ayat-ayat Alquran yang menguraikan
tentang bintang dan kesehatan, misalnya, hanya sepenuhnya dipahami
masing-masing dengan pengetahuan astronomi dan kesehatan. Ibnu Rusyd dalam fasl al-maqal, juga memberikan
penjelasan keterkaitan antara penafsiran keagamaan dan kefilsafatan dengan
mengutip beberapa ayat Alquran yang mendorong manusia meneliti dan
menggambarkan kajian penciptaan langit dan bumi, dalam ayat-ayat berikut.
QS Al A’raaf ayat 185:
اَوَلَمْ يَنْظُرُوْا فِيْ مَلَكُوْتِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَمَا خَلَقَ اللّٰهُ مِنْ شَيْءٍ وَّاَنْ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنَ قَدِ اقْتَرَبَ اَجَلُهُمْۖ فَبِاَيِّ حَدِيْثٍۢ بَعْدَهٗ يُؤْمِنُوْنَ
Artinya :”dan Apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi
dan segala sesuatu yang diciptakan Allah, dan kemungkinan telah dekatnya
kebinasaan mereka? Maka kepada berita manakah lagi mereka akan beriman sesudah
Al Quran itu?”
QS Ali Imran ayat 191:
|WîÏÜ≈t/ #x≈yä
Artinya :”(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau
duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan
langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau
menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari
siksa neraka”.
QS Al Ghaasiyyah ayat 17-18:
اَفَلَا يَنۡظُرُوۡنَ اِلَى الۡاِ بِلِ كَيۡفَ خُلِقَتۡ
Artinya :”Maka Apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana Dia
diciptakan, dan langit, bagaimana ia ditinggikan?”
Dengan hal yang sama, Alquran juga mendorong manusia
melakukan perjalanan di bumi untuk mempelajari nasib peradaban sebelumnya. Ini
membentuk kajian sejarah, arkeologi, perbandingan agama, sosiologi dan
sebagainya secara utuh.
Dalam QS Fushshilat ayat 53, secara kategoris, Alquran
menegaskan bahwa ayat-ayat Allah SWT di alam semesta dan di kedalaman batin
manusia merupakan bagian yang berkaitan dengan kebenaran wahyu, dan menegaskan
kecocokan dan keutuhan yang saling terkait. Namun, keutuhan dan kesatuan cabang-cabang pengetahuan ini
tidak berarti bahwa disiplin-disiplin itu sama, atau tidak ada prioritas
diantara mereka.
QS Fushshilat ayat 53:
Artinya: Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan)
Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi
mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa Sesungguhnya
Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?
Pengetahuan wahyu dalam konsep Islam adalah lebih utama,
unik karena berasal langsung dari Allah SWT dan memiliki manfaat yang mendasar
bagi alam semesta. Semua pengetahuan lain yang benar harus membantu kita
memahami dan menyadari arti dan jiwa pengetahuan Allah SWT di dalam Alquran
untuk kemajuan individu dan masyarakat.
Ilmu Pengetahuan dalam
Hadits
Hadits-hadits Nabi juga sangat banyak yang mendorong dan
menekankan, bahkan mewajibkan kepada umatnya untuk menuntut ilmu (Alavi, 2003).
Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW:
طلب العلم فريضة على آل
مسلم
Artinya: “Menuntut ilmu itu suatu
kewajiban kepada setiap muslim.” (HR.
Ibnu Majah)
Hadits di atas memberikan dorongan yang sangat kuat bagi
kaum muslimin untuk belajar mencari ilmu sebanyak-banyaknya, baik ilmu-ilmu
agama maupun ilmu-ilmu umum, karena suatu perintah kewajiban tentunya harus
dilaksanakan, dan berdosa hukumnya jika tidak dikerjakan. Lebih lanjut
Rasulullah mewajibkan kepada umatnya untuk menuntut ilmu sepanjang hayatnya,
tanpa di batasi usia, ruang, waktu dan tempat sebagaimana sabdanya “Tuntutlah ilmu dari buayan sampai liang
lahat” dan “Tuntutlah ilmu sekalipun
ke negeri Cina”.
Dalam Media Islamika (2007), dorongan dari Alquran dan
perintah dari Rasulullah tersebut telah dipraktikkan oleh generasi Islam pada
masa abad pertengahan (abad ke 7-13 M). Hal ini terbukti dengan banyaknya
ilmuan-ilmuan Muslim tampil kepentas dunia ilmu pengetahuan, sains dan
teknologi, seperti Al-Farabi, Al-Kindi, Ibnu Sina, Ikhwanusshafa, Ibn Miskwaih,
Nasiruddin al-Thusi, Ibn rusyd, Imam al-Ghazali, Al-Biruni, Fakhrudin ar-Razy,
Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Hambali dan lain-lain. Ilmu yang
mereka kembangkanpun berbagai macam disiplin ilmu, bahkan meliputi segala
cabang ilmu yang berkembang pada masa itu, antara lain: ilmu Filsafat, Fisika,
Astronomi, Astrologi, Alkemi, Kedokteran, Optik, Farmasi, Tasauf, Fiqih,
Tafsir, Ilmu Kalam dan sebagainya.
Pada masa itu kejayaan, kemakmuran, kekuasaan dan politik
berada di bawah kendali umat Islam, karena mereka meguasai sains, ilmu
pengetahuan dan teknologi. Rasululullah SAW pernah bersabda: “Umatku akan jaya dengan ilmu dan harta”.
Banyak lagi hadits-hadits beliau yang memberikan anjuran dan motivasi kepada
umatnya untuk belajar menuntut ilmu, namun dalam kesempatan ini tentunya tidak
dapat disebutkan semuanya.
PENUTUP
Dengan demikian, Alquran dan Hadits merupakan sumber ilmu
yang dikembangkan oleh umat Islam dalam spektrum yang seluas-luasnya. Lebih
lagi, kedua sumber pokok Islam ini memainkan peran ganda dalam penciptaan dan
pengembangan ilmu-ilmu. Peran itu adalah: Pertama,
prinsipprinsip semua ilmu dipandang kaum Muslimin terdapat dalam Al Qur’an. Dan
sejauh pemahaman terhadap Alquran, terdapat pula penafsiran yang bersifat
esoteris terhadap kitab suci ini, yang memungkinkan tidak hanya pengungkapan
misteri-misteri yang dikandungnya tetapi juga pencarian makna secara lebih
mendalam, yang berguna untuk pembangunan paradigma ilmu. Kedua, Alquran dan Hadits menciptakan iklim yang kondusif bagi
pengembangan ilmu dengan menekankan kebajikan dan keutamaan menuntut ilmu, pencarian
ilmu dalam segi apa pun pada akhirnya akan bermuara pada penegasan Tauhid.
Karena itu, seluruh metafisika dan kosmologi yang lahir dari kandungan Alquran
dan Hadits merupakan dasar pembangunan dan pengembangan ilmu Islam. Singkatnya,
Alquran dan Hadits menciptakan atmosfir khas yang mendorong aktivitas
intelektual dalam konformitas (Azra, 2001). Wahyu yang diterima oleh Nabi
Muhammad SAW berasal dari Allah SWT, merupakan sumber pengetahuan yang paling
pasti. Namun, Alquran juga menunjukkan sumber-sumber pengetahuan lain disamping
apa yang tertulis di dalamnya, yang dapat melengkapi kebenaran wahyu. Pada
dasarnya sumber-sumber itu diambil dari sumber yang sama, yaitu Allah SWT, asal
segala sesuatu. Namun, karena pengetahuan yang tidak diwahyukan tidak diberikan
langsung oleh Allah SWT kepada manusia, dan karena keterbatasan metodologis dan
aksiologis dari ilmu non-wahyu tersebut, maka ilmu-ilmu tersebut di dalam Islam
memiliki kedudukan yang tidak sama dengan ilmu pengetahuan yang langsung
diperoleh dari wahyu. Sehingga, di dalam Islam tidak ada satupun ilmu yang
berdiri sendiri dan terpisah dari bangunan epitemologis Islam, ilmu-ilmu
tersebut tidak lain merupakan bayan atau penjelasan yang mengafirmasi wahyu,
yang kebenarannya pasti. Di sinilah letak perbedaan epistemologi sekuler dengan
epistemologi Islam.
DAFTAR PUSTAKA
Abqary, R. (2010). 101 info tentang ilmuan muslim. Bandung: DAR! Mizan.
Alavi,
Z. (2003). Pemikiran pendidikan Islam
pada abad klasik dan pertengahan. Bandung: Angkasa.
Al-Indunisi, A. N. A. S. (2008). Ensiklopedia Imam Syafi’i. Jakarta: Hikmah.
Azra,
A. (2001). Pendidikan Islam: Tradisi dan modernisasi menuju milenium baru
(3rd ed.). Jakarta: Kahinah.
Baiquni, A. (1997). Alquran dan ilmu pengetahuan kealaman. Yogyakarta: Dana Bakhti
Prima Yasa.
DEPAG. (2000). Sains menurut perespektif Alquran. Jakarta: Dwi Rama.
Gordon, S. (2008). Asia menguasai dunia. Jakarta:
Cahaya Insan Suci.
Hafidhuddin, D. (1998). Dakwah actual. Jakarta: Gema Insani Press.
Hasan, M. T. (2005). Prospek Islam dalam menghadapi tantangan zaman. Jakarta: Lantabora
Press.
Kartanegara, M. (2006). Reaktualisasi tradisi ilmiah Islam. Jakarta: Baitul Ihsan.
Media
Islamika. (2007). Jurnal Kedokteran,
Kesehatan dan Keislaman Fak. Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN S Jakarta. MI,
Vol. 4, No. 1, Mei 2007.
Rahardjo,
M. D. (2002). Ensiklopedi Alquran tafsir
sosila berdasarkan konsep-konsep kunci. Jakarta: Paramadina.
Sarwar, H. G. (1994). Filsafat Alquran. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Turner,
H. R. 2004. Sains Islam yang mengagungkan
sebuah catatan terhadap abad pertengahan. Bandung: Nuansa Bandung.
Yatim, B. (1997). Sejarah peradaban Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Komentar
Posting Komentar